The First Sight in Every Early Morning

January 26, 2006

Fenomena Wanita Bekerja dari Rumah di Era Teknologi Internet

Filed under: My Self Development

Fenomena Wanita Bekerja dari Rumah di Era Teknologi Internet

Tulisan kali ini dibuat atas permintaan seorang teman. A multytalanted dady, begitu julukan yang dianugrahkan oleh seorang teman kami kepadanya. The multytalanted dady meminta saya untuk menuliskan sesuatu yang behubungan dengan internet dan muslimah. Wah, pas kalau begitu. Karena beberapa bulan terakhir ini saya sedang membuka jalan untuk mencoba memperoleh uang lewat internet. Kok Bisa?

Peluang ini awalnya ditangkap oleh suami saya yang secara kebetulan berkenalan dengan seseorang yang sudah merasakan manfaatnya memperoleh uang lewat internet. Teman suami saya ini sekarang sudah berhenti dari pekerjaannya dan memilih memperoleh uang lewat internet. Posisi teman suami saya saat itu sudah lumayan mapan di kantornya. Anda bisa bayangkan bagaimana bisa dia berani memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya. Padahal dia adalah kepala rumah tangga yang harus menafkahi keluarganya. Dia mengambil keputusan itu karena ternyata internet cukup menjanjikan untuk bisa mengakomodasi kebutuhan finansial keluarganya. Nah, kalau dia yang seorang lelaki bisa, mengapa kita yang seorang wanita tidak? Duh, bukan bermaksud gender lho.

Saya dan suami kemudian mulai mempelajari peluang ini dan sekarang kami berdua sedang merintisnya. Kami optimis suatu saat nanti kami akan menuai benih-benih yang sedang kami semai di ladang internet. Amiin.

Sebelum saya memtuskan untuk “ikut-ikutan” merambah dunia internet ini, ada beberapa pertimbangan.

Pertama, hantaman krisis moneter tahun 1997 dan berlanjut menjadi krisis ekonomi yang entah sampai kapan berakhir. Ditambah kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM, TDL, dan tarif telpon secara sistematis dengan besaran yang signifikan. Kebijakan politis ini tentu semakin memberatkan kehidupan masyarakat kita. Mau tidak mau, kita harus lebih pandai mencari penghasilan tambahan yang halal.

Kedua, keberadaan anak yang dipercayakan oleh Allah SWT kepada saya dan suami yang membutuhkan pengasuhan, “pendidikan rumah”, dan curahan kasih sayang yang intensif dari ibunya. Saya pikir saya tidak bisa selamanya meninggalkan anak sekitar 10 jam sehari dari hari senin sampai jumat. Saya pikir saya tidak bisa selamanya mendelegasikan pengasuhan dan “pendidikan rumah” serta mewakilkan kasih sayang sayauntuk si kecil kepada pembantu di rumah. Bukannya tugas utama muslimah adalah sebagai ibu dan pengatur urusan rumah tangga?

Ketiga, memanfaatkan teknologi internet untuk memperoleh penghasilan bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Tentu saya berharap suatu saat nanti saya bisa secara fulltime menjalankan bisnis dengan internet dari rumah. Itulah mengapa bekerja dari rumah menjadi tema sentral tulisan kali ini.

Saya juga berharap suatu saat nanti apabila saya sudah bisa fulltime menjalankan bisnis ini dari rumah, saya akan lebih mudah dan leluasa mengatur jadwal antara menjalankan bisnis dengan mengurus dan menjaga anak. Jadi, sekalipun saya di rumah, saya bisa menghasilkan uang sekaligus mengurus dan menjaga anak saya.

Keempat, ada beberapa model bekerja dari rumah dengan menggunakan teknologi internet yang relatif tidak membutuhkan modal besar. Seperti model yang saya rintis sekarang.

Kelima, bekerja dari rumah dengan menggunakan fasilitas internet memberikan ladang pekerjaan yang lebih bervariasi dengan jangkauan luas dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Kita bisa mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan uang dari pihak yang mungkin kita sendiri belum pernah mengenalnya langsung. Karena bisa saja pihak tersebut berasal dari belahan dunia lain. Sehingga bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa mempertimbangkan perbedaan fisik dan latar belakang.

Model-model bekerja dari rumah dengan memanfaatkan teknologi internet

Sebenarnya parktek wanita bekerja dari rumah sudah ada sejak dulu. Banyak pekerjaan-pekerjaan halal yang bisa dilakukan di rumah atau dekat rumah yang bisa menghasilkan uang. Seperti usaha jasa menjahit pakaian, jasa cathering atau membuat kue, berjualan atau berdagang, berladang, dsb.

Seiring dengan kemajuan IPTEK, khususnya teknologi komputer, informasi, dan internet, peluang wanita bekerja dari rumah pun menjadi lebih beragam. Berikut ini beberapa contoh model bekerja dari rumah dengan memanfaatkan teknologi internet.

Pertama, memasarkan produk atau jasa yang kita miliki lewat internet. Sebelum ada internet, apabila kita mau jualan, biasanya kita door to door menawarkan produk atau jasa, ikutan arisan biar bisa sambil jualan, membuka ruko atau display di arena publik, atau memasang iklan di berbagai media.

Setelah adanya teknologi internet, kita bisa memasarkan produk atau jasa kita melalui beberapa fasilitas yang tersedia di internet. Istilahnya memasarkan bisnis offline kita melalui internet. Misalnya, kita bisa mengikuti beberapa mailing list dan beberapa forum diskusi yang sesuai. Kemudian kita tinggal menawarkan produk atau jasa kita dengan mengirimkan pesan lewat mailing list dan forum diskusi tersebut.

Bisa kita bayangkan berapa ratus orang yang mungkin akan membaca pesan kita. Kalau kita ikut dua mailing list dan dua forum diskusi saja, apabila masing-masing anggota yang tergabung 50 orang, misalnya 50 persen saja yang membaca pesan kita, berarti ada 100 orang yang tau kalau kita menawarkan produk atau jasa. Beberapa situs ada juga yang menawarkan pemasangan iklan gratis.

Ada beberapa rekan-rekan di sebuah mailing list yang saya ikuti telah menjalankan model pertama ini. Silahkan anda kunjungi http://www.bundainbiz.com; dan http://www.cintabunda.com; agar bisa mendapat gambaran lebih jelas.

Kedua, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kantor yang bersifat klerikal dari rumah. Biasanya kita tinggal menjalankan tugas pesanan yang berhubungan dengan mengetik naskah atau memasukkan data (data entry) dan kemudian mengirimkan hasil pekerjaan kita lewat email.

Contohnya Anda bisa buka http://www.indonesiatypist.com yang memberikan pekerjaan mengetik dan memasang naskah iklan. Apabila target pekerjaan sudah selesai, kita diminta menyampaikan copy pekerjaan kita via email. Tapi sayang, di Indonesia pekerjaan ini tidak bisa dijadikan pekerjaan andalan, mengingat honornya yang masih terlalu murah. Atau anda bisa buka http://www.aprido.com yang memberikan pekerjaan memasukkan data (data entry). Sayang, saya belum menemukan perusahaan lokal yang memberikan peluang ini. Tetapi bukan berarti kita tidak boleh ikutan hanya karena perusahaan tersebut perusahaan yang lokasinya di luar negeri. Modalnya, kita hanya berbahasa Inggris dengan fasih 

Harapan saya ke depan justru semakin banyak lagi tugas-tugas rutin yang bersifat klerikal kantoran bisa dikerjakan di rumah. Kita tinggal mengambil dokumen yang dibutuhkan. Kita kerjakan di rumah, kemudian kita serahkan hasil pekerjaan kita beserta dokumennya apabila sudah selesai. Jadi sekalipun keluar rumah, hanya hari-hari tertentu saja dan tidak seharian. Toh kalau ada masalah, teknologi informasi sudah canggih, kita tingal memilih mau memakai telpon, e-mail, atau bahkan chatting.

Tugas-tugas rutin klerikal seperti ini misalnya penyusunan laporan keuangan, menyiapkan surat setoran pajak, pengetikan, penerjemahan, riset, dsb.

Ketiga, menjual produk atau jasa orang lain lewat internet. Model ini memposisikan kita sebagai marketer atau “calo” di dunia maya. Untuk model ketiga ini, kita bisa mengikuti program direct selling, MLM, atau program affiliasi. Ketiganya adalah lumrah dalam dunia internet marketing. Khusus untuk program MLM, saya pribadi tidak merekomendasikan mengingat status hukumnya masih controversial di kalangan para ulama.

Lebih lanjut Anda bisa membuka http://www.belairku.com bagi Anda yang tertarik terjun ke dunia direct selling atau MLM via internet. Sedangkan bagi Anda yang tertarik terjun ke bisnis affiliasi, anda bisa membuka http://www.BisnisPrestisE.com. Program affiliasi ini berbeda dengan MLM. Karena apabila kita mengikuti program affiliasi, kita hanya akan dibayar apabila kita berhasil menjual produk atau jasa pihak tersebut yang kita pasarkan lewat internet.

Program affiliasi memang belum banyak ditawarkan di Indonesia, tetapi di luar negeri banyak sekali. Perusahaan-perusahaan luar negeri pun biasanya membuka kesempatan bagi siapapun yang ingin mencobanya. Walaupun memang perusahaan yang membuka program affiliasi belum tentu membuka kesempatan untuk siapa saja.

Model-model bekerja dari rumah dengan memanfaatkan fasilitas internet yang saya uraikan di atas hanyalah beberapa contoh saja yang saya ketahui. Semoga bisa memberi manfaat bagi kita semua. Besar harapan saya, teknologi internet bisa menjadi alternatif bagi muslimah khususnya yang ingin memperoleh penghasilan. Semoga suatu saat nanti bisa menjadi budaya yang positif yang ditunjang oleh tarif koneksi internet yang lebih murah :)

Demikian yang bisa saya sampaikan. Saya sangat membuka diri apabila rekan-rekan semua ingin berbincang-bincang lebih lanjut mengenai topik ini. Silahkan kirim e-mail atau sapa saya di YM di alamat geraldina_ira@yahoo.com. Terima kasih.

December 22, 2005

Saran Praktis Buat Ummu Gina (Special aktivities)

Filed under: Uncategorized

Sekedar gambaran:
Khusus aktivitas bekerja, ngurus TPA, dan mencerdaskan anak manusia :)

Pertama, mencerdaskan anak manusia (wajib)
Biasanya untuk keperluan ini, maka skedul rutin yang harus dilakukan adalah:
1. Belajar, 1 kali setiap minggu
2. Arisan, 1 kali setiap bulan
3. PDKT personal, 1 X per minggu
4. Menyiapkan materi mengajar, 1 X per minggu
5. Mengajar, 1 X per minggu

Kedua, mengurus TPA (sunnah). Kalaupun harus terjun, cukup meluangkan waktumu 1 kali setiap minggunya.

Ketiga, bekerja (mubah). Kalau yang satu ini sangat tergantung dengan tempatmu bekerja. Kalau masih mau bekerja, coba lobby lembaganya agar gak dikasih jadwal yang banyak, hehe.

Artinya:
1. Setiap hari ada satu aktivitas rutin yang menuntut mama Gina keluar rumah.
2. Usahakan untuk belajar, pdkt personal, dan mengajar dilakukan di rumah biar tidak terlalu berat. Kasih pengertian sama orang-orang yang berkepentingan mengapa minta di rumah.
3. Keteteran temen-temen mengurus TPA, coba didefinisikan lagi, hehe. Masih bisa running tanpamu atau gak. Kalo udah ga bisa running, minta bagian yang tidak terlalu menguras tenaga dan pikiran.

Begitulah, mudah-mudahan bermanfaat.

Salam kangen.

Tips Buat Ibu Hamil yang Super Bussy :)

Filed under: Uncategorized

Tips ini sebenarnya merupakan isi email saya buat seorang teman, mama Gina. Berhubung saya selalu gagal mengirim emailnya, yo wiss, ta’ posting aja di blog ini (dengan kemasan yang sudah disesuaikan-tentunya). Mudah-mudahan belum basi bagi yang bersangkutan :)

Teman saya ini sedang hamil, tetapi aktivitasnya segudang. Demi menjaga kelangsungan aktivitas dan kesehatan ibu dan bayi di rahimnya, mama Gina mau gak mau harus membuat skala prioritas Tipsnya:
1.Buat daftar aktivitas yang hukumnya wajib, sunnah, dan mubah.
2.Diantara aktivitas yang mubah, coba liat lagi kemudian pilih berdasarkan “kepentingan” bukan “keinginan” (tau kan bedanya? Hehe) mana yang memang penting dan tidak. Yang tidak penting coret.
3.Utamakan aktivitas yang wajib, baru sunnah, kemudian aktivitas mubah yang penting.
4.Apabila diantara aktivitas yang wajib, ada yang bentrok, dahulukan yang harus didahulukan, tunda (bukan tinggalkan) kewajiban yang bisa ditunda. First thing first lah. Hehe.
5.Buat skedul kerja harian atau mingguan. Alokasikan aktivitas-aktivitas yang sudah terpilih ke dalam waktu yang Yanti miliki. Jangan lupa, aktivitas kita dibatasi waktu yang cuma 24 jam sehari dan keterbatasan fisik yang lagi hamil. Jangan lupa juga, menjaga calon baby jg hukumnya wajb lo 
6.Delegasikan tugas-tugas yang bisa didelegasikan.

Kalau aku liat sebaiknya kamu kurangi frekuensi (bukan berenti lo, hehe) berdakwah, mengajar TPA, kalau bisa bekerja juga. Tapi kalau bekerja, Yanti kan ga bisa menentukan skedul mengajar kan? Pilihannya Cuma berenti atau pasrah, hehe.

Tips meninggalkan bayi di rumah:
1.Yakinkan bahwa orang yang menjaga dan mengurus bayi di rumah bisa dipercaya.
2.Training selama 2 minggu langsung oleh kita sendiri, jangan ditraining sama orang lain. Usahakan hanya ada satu komando, biar yang lagi training ga bingung siapa yang harus diikutin.
3.Buat SOP (hehe) apa yang harus dia lakukan dan bagaimana caranya.
4.Jalin komunikasi yang baik dan intens biar tidak “kehilangan jejak”. Hehe
5.Kasih tau hal-hal yang harus dilakukan dalam keadaan darurat. Kalau perlu ketik dan temple di dapur or di pintu lemari es. Misal kalau anget, harus diapain sampai Yanti dating. Kasih tau keadaan yang seperti apa saja yang mengharuskan dia nelpon Yanti langsung
6.Kasih tau, jangan coba-coba ambil inisiatif kalau belum tau apa yang harus dilakukan kalau kita gak ada. Kalau belum tau, karena belum diajarin, langsung tanya aja ke Yanti.
7.Relakan bayimu dipegang orang lain. Ga mudah lo, hehe.
8.Jangan terlalu berharap banyak dari orang lain, bagaimanapun dia bukan ibunya, hehe. Selama tidak mengancam jiwa, pertumbuhan, dan perkembangan kepribadiannya,it is fine.

Gitu kali ye…ah, saya jadi malu, mama gina pasti lebih mahir. Kamu kan orangnya telaten, gak kayak aku. Hehe.

December 6, 2005

Sejatinya sebuah Aktivitas (Tulisan II)

Filed under: My Self Development

#2: Motivasi Beraktivitas

Setelah sebelumnya kita kupas bersama mengenai potensi hidup manusia yang melahirkan beragam kebutuhan hidup dan kemudian menuntut untuk dipenuhi, maka sekarang kita kupas bersama bagaimana cara kita beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tetapi sebelumnya kita telaah bersama sejatinya sebuah aktivitas.

Sebelum kita beraktivitas, seyogyanya kita mengetahui tujuan jangka panjang, tujuan antara, dan nilai sebuah aktivitas. Tujuan jangka panjang beroreinetasi pada kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Tujuan antara berorientasi pada nilai dari suatu aktivitas.

Setiap orang pasti memiliki maksud dan tujuan dari setiap yang dilakukannya, baik disadari atau tidak, walaupun hanya sekedar iseng or having fun! Terlepas apakah keisengan tersebut bernilai atau tidak.

Perlunya memahami Nilai Suatu Aktivitas

Hal ini penting agar kita tidak keliru memaknai setiap perbuatan kita dan kita bisa mengukur keoptimalan, efektivitas, dan kesungguhan usaha kita sehingga tidak salah kaprah. Karena kita memahami maksud dan tujuan dari setiap apa yang kita lakukan.

Apa maksud dan tujuan setiap aktivitas?

Maksud setiap aktivitas tidak lain adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang telah kita kupas bersama pada tulisan I. Sedangkan tujuan (orientasi) orang beraktivitas sangatlah beragam. Untuk satu aktivitas yang sama bisa jadi tujuannya berbeda. Hal ini tergantung apa yang ada di pikiran dan hatinya.

Ada orang yang apapun yang dilakukannya berorientasi uang, dan kita biasanya memandang negatif. Ada juga orang yang apapun yang dilakukannya berorientasi sosial, dan kita biasanya memandang positif.

Benarkah demikian?

Secara faktual, bisa kita amati bahwa ada beberapa kategori nilai dari semua yang kita lakukan. Nilai inilah yang akan menjadi orientasi sesaat (orientasi dasar atau tujuan antara) dari setiap perbuatan kita.

Pertama, bernilai spiritual.

Kategori yang pertama ini diperuntukkan untuk setiap perbuatan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya lewat ibadah-ibadah ritual. Misalnya sholat, puasa, kebaktian, pergi haji, mengaji, dan sejenisnya.
Karena perbuatan-perbuatan tersebut bernilai spiritual, maka semata-mata hanya ditujukan agar kita mendapatkan pahala dan merasakan kedekatan personal dengan Sang Khalik. Seyogyanya kita tidak memiliki motivasi apapun selain ingin mendekatkan diri dengan Sang Khalik. Keinginan kita untuk merasakan kedekatan dengan Sang Khalik timbul karena secara alamiah kita diberi potensi hidup beragama seperti yang sudah diuraikan pada tulisan pertama.

Kedua, bernilai material.

Dinamai bernilai material, karena oreintasi dasar dari perbuatan-perbuatan yang terkategori pada nilai yang kedua ini adalah untuk memperoleh materi. Materi dalam makna luas, segala sesuatu yang terindra (dapat dilihat, dirasakan, diraba, dsb).

Contohnnya orientasi dasar kita bekerja adalah untuk mendapatkan feedback dari pemberi kerja berupa upah atau gaji. Upah atau gaji adalah materi. Orientasi dasar kita bedagang adalah untuk memperoleh profit. Profit adalah materi. Orientasi dasar kita pergi ke dokter adalah untuk berobat atau agar tubuh kita sehat. Tubuh kita sehat adalah materi, dan sebagainya.

Karena perbuatan-perbuatan tersebut bernilai material, maka orientasi dasar dari perbuatan tersebut tidak lain adalah untuk memenuhi kebutuhan material. Keinginan kita untuk memperoleh materi timbul karena dorongan kebutuhan akibat secara alamiah kita dikaruniai potensi hidup fisikal seperti yang dijelaskan pada tulisan sebelumnya.

Ketiga, bernilai sosial atau kemanusiaan.

Dikatakan bernilai sosial karena oreientasi dasar dari perbuatan-perbuatan ini adalah untuk tujuan kemanusiaan. Bagaimanapun, manuasia adalah mahluk sosial yang saling tergantung dan membutuhkan satu sama lain. Maka sesuatu yang wajar apabila kita perlu saling menerima dan memberi diantara sesama.

Contohnya, ada teman atau sanak saudara kita yang perlu bantuan kita, maka kita tolong. Beberapa tempo yang lalu, terjadi musibah tsunami dan katharina, maka sewajarnya kita memberi bantuan kemanusiaan, apapun bentuknya. Oleh karena itu, seyogyanya apabila kita melakukan aktivitas “kemanusiaan” semata-mata adalah untuk menolong sesama tanpa mengharapkan imbalan material ataupun embel-embel apapun.

Misalnya, pada saat kita menolong orang lain, kita tidak berharap dia akan membalas kebaikan kita. Pada saat kita memberi bantuan kepada kaum dhuafa, kita tidak mengharapkan sanjuangan dari masyarakat dengan membuat publikasi khusus.

Keempat, bernilai moril (akhlak).

Perbuatan yang bernilai moril adalah perbuatan yang kita lakukan untuk menghiasi perilaku kita dengan nilai-nilai moralitas (akhlak) yang baik pada saat berinteraksi dengan sesama dan semesta alam.

Moralitas (akhlak) ini sebaiknya melekat pada setiap perbuatan baik yang kita lakukan. Misalnya, pada saat kita berbicara dengan pembantu, kita bicara dengan kata-kata yang baik dan halus, memuliakan tamu, tidak merusak alam, berdagang dan bekerja dengan jujur dan tekun, merawat dengan baik piaraan (makna denotasi bukan konotasi-red) di rumah.

Nah, ibaratnya kita bepergian, baiknya mempunyai tujuan spesifik tempat yang kita tuju. Kadangkala, karena pertimbangan tertentu, kita mengunjungi beberapa tempat dalam satu kali jalan. Walau demikian, kita pasti pergi ke satu tempat terlebih dahulu, baru kemudian pergi ke tempat tujuan yang lain.

Begitu pula dengan tujuan dari sebuah perbuatan. Sebaiknya untuk sebuah perbuatan tertentu, kita mempunyai satu tujuan. Tujuan yang dimaksud ini, tidak lain adalah nilai dari perbuatan itu sendiri.

Artinya, apabila kita beribadah, ya tujuannya semata-mata untuk mereguk nilai spiritual. Apabila kita bekerja, ya tujuannya untuk menyongsong nilai material. Apabila kita membantu sesama, ya tujuannya untuk mengabadikan nilai kemanusiaan. Apabila kita bersikap baik, tujuannya ya untuk menjunjung nilai moralitas.

Sebaiknya kita tidak mencampuradukkan tujuan yang ingin kita capai dalam perbuatan yang kita lakukan. Hal ini, akan membuat bias perbuatan tersebut, sehingga kita sulit untuk mengukur kinerja (optimalitas, efisiensi, dan efektivitas) dari perbuatan tersebut.

Contoh kasus

Bekerja adalah salah satu bentuk perbuatan yang bernilai material (karena tujuannya untuk memperoleh materi). Harapan kita bekerja adalah untuk memperoleh gaji, penghargaan, dan pengakuan atas kemampuan yang kita miliki. Gaji, penghargaan, dan pengakuan adalah materi. Maka, kita bisa mengukur kinerja pekerjaan kita dengan membandingkan input (besaran gaji) dengan output (tenaga, pikiran, dan keahlian yang kita kerahkan). Kesesuaian antara input dan output inilah yang akan menjadikan indikator dari profesi yang kita geluti baik (memuaskan) atau tidak.

Lain halnya apabila kita bekerja, menggabungkan antara nilai material dan sosial. Kasus seperti ini banyak kita jumpai pada orang-orang yang bekerja pada sebuah yayasan atau lembaga kemanusiaan. Kadang tidak jelas apa tujuan mereka, mencari uang (nilai material) atau membantu sesama (tujuan sosial). Sehingga timbullah semboyan pengabdian kepada masyarakat sambil mencari uang. Sehingga seringkali mereka kebingungan menentukan pekerjaan mana yang ia bisa menuntut kompensasi dan mana yang tidak.

Tetapi, bukan berarti di tempat kerja kita tidak boleh melakukan aktivitas kemanusiaan lho! Hehe.Apa yang akan kita lakukan apabila jika di tempat kerja ada teman atau bos yang minta tolong di luar tanggung jawab pekerjaan?

Pertama, kita liat dahulu apakah permintaan mereka bersifat personal atau professional (berhubungan dengan tanggung jawab pekerjaan atau tidak). Apabila bersifat personal, ya sebaiknya kita memang niatkan untuk membantu dan tidak menuntut nilai material. Tetapi, apabila bersifat professional, maka kita bisa memilih apakah akan menuntut kompensasi material atau semata-mata diniatkan untuk menolong saja. Tentunya sebelumnya harus ada kesepakatan bersama terlebih dahulu apakah bantuan yang akan kita berikan memang ada kompensasi materialnya atau tidak.

Nilai-nilai perbuatan yang ingin kita capai dari setiap perbuatan kita tidak menunjukkan tingkatan kemulian kita sebagai manusia. Bukan berarti orang yang shalat ke mesjid menjadi lebih mulia daripada mencari nafkah. Kemuliaan tersebut terlihat apakah dalam setiap melakukan perbuatan (apapun oreintasi nilainya), kita menghadirkan Sang Pencipta dalam perbuatan kita atau tidak.

Mengnhadirkan di sini adalah kita senantiasa mengikatkan diri dengan aturan dan larangan-Nya pada saat beraktivitas aapun. Dengan demikian, lahirlah kesadaran hubungan kita dengan Sang Pencipta (ruh/spirit). Bahwa kita hanya mahluk yang terbatas yang membutuhkan bimbingan dari Maha Yang Tidak Terbatas agar perbuatan kita selalu menuai pahala, agar Allah SWT ridlo kepada kita.

Keridloan tersebut terletak pada keterikatan kita dengan perintah dan larangan Allah SWT pada saat beraktivitas apapun. Sehingga kita bisa berbahagia di dunia dan akhirat. Karena Dia-lah yang Maha Mengetahui sejatinya ciptaan-Nya. Itulah yang hendaknya menjadi tujuan jangka panjang kita. Allah SWT meridloi setiap aktivitas kita.

So, aktivitas yang sejati adalah setiap aktivitas yang memiliki motivasi yang jelas, yakni memiliki tujuan antara dan senantiasa mencapai tujuan jangka panjang seperti telah dijelaskan di atas.

Wallahu’alam bi Shawab.

August 15, 2005

Hari Ini

Filed under: Home Sweet Home

Hari ini, ada yang baru join di kantorku.
Namanya Nisa, adik angkatan sewaktu di kampus dulu.
Duh, jadi pengen ke kampus :)

Nisa juga pernah jadi teman sekantor salah seorang temanku waktu kuliah dulu.

Garing gak sih postingannya?
Cuman ngebilangin itu aja :)

Semoga kita bisa jadi tim yang baik.
Maklum, semester ini kami partner-an dalam salah satu mata kuliah.
Amiin.

July 25, 2005

Sejatinya sebuah Aktivitas (tulisan I)

Filed under: My Self Development

#1 : Potensi Hidup

Mengapa kita beraktivitas?

Manusia beraktivitas pada dasarnya didorong oleh adanya kepentingan. Kepentingan untuk memenuhi kebutuhan hidup agar kita bisa hidup secara wajar dan proporsional.

Mengapa timbul kebutuhan hidup?

Kebutuhan hidup timbul karena kita hidup (ups!). Maksudnya orang yang hidup pasti memiliki potensi hidup. Potensi untuk tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan diidentikan dengan perubahan fisik, sedangkan berkembang diidentikkan dengan peningkatan kemampuan menjalani hidup (life skill). Kebutuhan hidup timbul untuk menopang pertumbuhan dan perkembangan manusia dari waktu ke waktu.

Bagaimana mengidentifikasi kebutuhan secara benar?

Karena kebutuhan timbul sebagai akibat kita memiliki potensi hidup, maka kita harus terlebih dahulu mengenali potensi hidup apa saja yang kita miliki. Dari beberapa sumber yang saya baca, apabila kita kelompokkan ke dalam golongan besar, maka terdapat empat kelompok besar potensi hidup.

Pertama, potensi fisik. Dari potensi fisik inilah maka manusia mengalami fase pertumbuhan dan perubahan fisik dari lahir sampai meninggal. Hal ini disebabkan bekerjanya fungsi organ-organ tubuh manusia.

Agar organ-organ tubuh manusia ini bisa bekerja dengan baik dan benar, maka timbullah kebutuhan fisikal yang harus dipenuhi. Kebutuhan ini timbul dengan sendirinya secara alami tanpa harus kita stimulasi, karena datang dari dalam tubuh manusia. Apabila tidak dipenuhi, maka bisa menyebabkan kerusakan fungsi organ tubuh dan kerusakan organ itu sendiri. Bahkan bisa menimbulkan kematian.

Contohnya apabila usus kita sudah kosong, maka kita merasa lapar. Kalau kita lapar maka kita butuh makan. Kalau kita tidak makan karena lapar, maka kita bisa jatuh sakit bahkan mati kalau sudah kelaparan teramat sangat (ihhh).

Itulah mengapa kita boleh makan bangkai manusia apabila kita sudah berhari-hari tidak makan dan tidak menemukan makanan lain hanya sekedar untuk bisa melangsungkan hidup (ihh, jangan sampe! Ini hanya ilustrasi terburuk).

Contoh lain kalau salah satu organ tubuh kita terganggu fungsi kerjanya karena satu dan lain hal, kita jadi sakit, kemudian butuh berobat.

Kedua, potensi memiliki keturunan. Potensi ini bisa melahirkan kebutuhan apabila distimulasi dari luar. Implikasi dari potensi ini beragam dan biasanya berhubungan dengan people relationship yang menimbulkan like and dislike, care, love and hate, dan sejenisnya baik kepada anggota keluarganya, lawan jenis, ataupun sesama jenis (weh?). Sehingga wajar apabila kita butuh kasih sayang, perhatian, ingin menikah, punya anak, menyayangi, membenci, dan sejenisnya.

Uniknya, berbeda dengan potensi yang pertama, kebutuhan yang timbul karena potensi ini apabila kebutuhan tersebut tidak dipenuhi tidak berdampak pada kematian, tapi biasanya menimbulkan keresahan jiwa. Sehingga apabila kebutuhannya tidak terpenuhi, bisa dialihkan. Misalnya tiba-tiba ada sesuatu yang mengingatkan kita kepada teman lama. Kita menjadi kangen dan ingin bertemu. Karena tidak memungkinkan untuk bertemu, maka kita bisa mengalihkan rasa kangen dan ingin bertemu dengan menyibukkan diri. Kita pun jadi lupa ingin ketemu.

Contohnya kalau kita liat cowok ganteng, baek budi, dan tidak sombong, maka kita suka. Kalaupun cowok tersebut terus gak ngapa-ngapain kita, we won’t die girls! Kalau ternyata kita gantung diri karena gak direspon, itu mah efek tidak langsung karena kebodohan kita. Ortu atau suami ngasih uang jajan lebih, kita jadi tambah sayang (ups! Ilustrasi yang tidak mendidik).

Ketiga, potensi beragama. Sama dengan potensi kedua, potensi ini akan melahirkan kebutuhan beragama apabila distimulus dari luar. Semakin sering kita melihat dan membaca sekeliling kita dengan hati dan pikiran yang jernih, maka kita akan semakin merasa membutuhkan kehadiran yang Maha Segala-Galanya. Karena siapapun kita dengan segala kelebihan dan kemampuan, ternyata kita, alam semesta, dan kehidupan ini tetap memliki keterbatasan. Sehingga wajar apabila kita merasa perlu beribadah, mendekatkan diri kepada Tuhan Semesta Alam dan sejenisnya.

Keempat, potensi untuk mempertahankan diri sendiri (self-defensing). Seperti halnya potensi hidup yang kedua dan ketiga, potensi ini akan melahirkan kebutuhan apabila distimulus dari luar. Potensi ini melahirkan kebutuhan untuk diapresiasi, membela diri apabila merasa diperlakukan tidak adil, kebutuhan untuk marah, menangis, dan sejenisnya.

Sebagaimana potensi yang melahirkan kebutuhan apabila distimulus dari luar, apabila timbul kebutuhan karena sudah distimulus dan tidak selalu harus dipenuhi sehinnga bisa dialihkan.

Contohnya kalau kita lagi ingin marah, tapi gak bisa, maka kita bisa refreshing, jalan-jalan ke mal (lagi-lagi rekomendasi yang standar).

Ringkasnya, sebelum kita beraktivitas, kita kenali dahulu kebutuhan tersebut timbul dari potensi hidup yang mana. Sehingga kita bisa tau bahwa tidak setiap kebutuhan harus selalu dipenuhi. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara kita memenuhi semua kebutuhan hidup kita? Sebelum kita mencari jawaban bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup, maka kita harus mengenali hakikat sebuah aktivitas. Artinya kita harus tau tujuan jangka panjang, tujuan antara, dan nilai setiap perbuatan. Sehingga kita tau, aktivitas mana yang bisa kita komersialkan dan mana yang free of charge.

Semua itu, akan kita kupas bersama pada tulisan kedua. Mudah-mudahan…

July 19, 2005

Etika Ketenagakerjaan

Filed under: Public Issues

Rekan-rekan, saya dapat artikel nih tentang ketenagakerjaan. Untuk lebih memudahkan tanpa mengurangi esensinya (semoga), jadi saya ringkas dari tulisan aslinya. Mudah-mudahan Bapak Riza tidak berkeberatan.

Cara Islam Menyesaikan Masalah Kontrak Pengusaha-Pekerja

Ditulis oleh Muhammad Riza Rosadi
Senin, 26 April 2004

Kontak kerja antara pengusaha dan pekerja adalah kontrak kerjasama yang harusnya saling menguntungkan. Pengusaha diuntungkan karena ia menperoleh jasa dari pekerja untuk melaksanakan pekerjaan tertentu yang dibutuhkan pengusaha. Sebaliknya pekerja diuntungkan karena ia memperoleh penghasilan dari imbalan yang diberikan pengusaha karena ia memberikan jasa kepada pengusaha. Karena itulah hubungan ketenagakerjaan di dalam pandangan Islam adalah hubungan kemitraaan yang harusnya saling menguntungkan. Tidak boleh satu pihak mendzalimi dan merasa didzalimi oleh pihak lainnya.
Agar hubungan kemitraan tersebut dapat berjalan dengan baik dan semua pihak yang terlibat saling diuntungkan, maka Islam mengaturnya secara jelas dan rinci dengan hokum-hukum yang berhubungan dengan ijaratul ajir (Kontrak kerja).

Pengaturan tersebut mencakup penetapan ketentuan-ketentuan Islam dalam kontrak kerja antara pengusaha dan pekerja; penetapan ketentuan yang mengatur penyelesaian perselisihan yang terjadi antara pengusaha dan pekerja. Termasuk ketentuan yang mengatur bagaimana cara mengatasi tindakan kedzaliman yang dilakukan salah satu pihak (pengusaha dan pekerja) terhadap pihak lainnya. Untuk itu ada beberapa langkah yang ditawarkan islam untuk dapat mengatasi dan menyelesaikan permasalahan ketenagakerjaan yang berhubungan dengan kontrak kerja antara pengusaha dan pekerja. Langkah-langkah tersebut adalah :

1. Kontrak kerja antara pengusaha dan pekerjamemenuhi akad ijaratul ajir

Salah satu bentuk pekerjaan yang halal untuk dilakukan adalah apa yang disebut dengan Ijaratul Ajir, yakni bekerja dalam rangka memberikan jasa (berupa tenaga maupun keahlian) kepada pihak tertentu dengan imbalan sejumlah upah tertentu. Ijarah adalah pemberian jasa dari seorang pekerja kepada seorang pemberi kerja, serta pemberian harta dari pihak pemberi kerja kepada pekerja sebagai imbalan dari jasa yang diberikan. Oleh karena itu ijarah didefinisikan sebagai transaksi terhadap jasa tertentu dengan disertai imbalan (kompensasi).

Dalam transaksi ijarah terdapat dua pihak yang terlibat yakni pihak yang memberikan jasa dan mendapatkan upah atas jasa yang diberikan yang disebut dengan pekerja dan pihak penerima jasa atau pemberi pekerjaan yakni pihak yang memberikan upah yang disebut dengan pengusaha/majikan. Menurut Islam suatu transaksi ijarah yang akan dilakukan haruslah memenuhi prinsip-prinsip pokok transaksi ijarah. Prinsip-prinsip pokok transkasi menurut Islam adalah:

(1) Jasa yang ditransaksikan adalah jasa yang halal dan bukan jasa yang haram.
(2) Memenuhi syarat sahnya transaksi ijarah yakni: (a) orang-orang yang mengadakan transaksi haruslah sudah mumayyiz (cukup umur, sehat mental, dan akalnya); (b) Transaksi (akad) harus didasarkan pada keridhaan kedua pihak, tidak boleh karena ada unsur paksaan.
(3) Transaksi (akad) ijarah haruslah memenuhi ketentuan dan aturan yang jelas yang dapat mencegah terjadinya perselisihan antara kedua pihak yang bertransaksi. Sehingga harus ditentukan bentuk kerjanya (jobdes), waktu, upah serta tenaganya. Karena itu dalam transaksi ijarah maka hal-hal yang harus jelas ketentuannya adalah menyangkut: (a) bentuk dan jenis pekerjaan, (b) masa kerja; (c) upah kerja; (d)

July 18, 2005

Titik Balik Kehidupan

Filed under: My Self Development

Seseorang pernah berkata bahwa dalam suatu waktu tertentu kita bisa mengalami suatu kejadian yang membuat semua kehidupan kita berubah. Itulah yang dinamakan titik balik kehidupan. Kejadian tersebut bisa menyadarkan kita akan kekhilafan, kekeliruan, dan kebodohan yang pernah kita lakukan.

Kejadian tersebut pastilah sebuah keadaan yang sangat memukul kita. Tapi benarkah demikian? Pernahkah hal tersebut mengalami rekan-rekan semua?

Saya tunggu sharing-nya. Saya hanya penasaran, seberapa besar kemungkinan hal tersebut terjadi pada diri kita. Antara percaya dan tidak…

This is what I am, this is who I am..

Filed under: My Self Development

Well, what should I say?…
I think I just wanna introduce my self and my blog, of course!!!
B’coz this is my first post.

Anatolia means “sun rise”. People believe that this is the place where the sun rise everyday.
It makes me believe that I have a life to fight for everyday.
So, when I wake up in every morning, then I know that I’m still alive…
There’s at least something waiting to be completed today ahead.

I believe I’m gonna make up on the things that I wanted, because I have dreams and people around me who share their own with me.

Anatolia is a place somewhere in the middle of west and east. A place which is become one of most wanted place in recent political strugle. Political struggle between “west” and “east”. And I wish, someday, Anatolia could be able to remain people that we are living in the same world and under the same sun.
Then, there is no west or east…

That is all for today. Wishing you enjoy your entire days…






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M